Pagi itu fajar hamburkan
Percikan-percikan api semangat
awali hariku, si yatim piatu
Kumanja diriku, pandang birunya horison itu
Teras panti asuhan
Kusambut alunan lagu selamat pagi dari pancaran sinar mentari bagiku
Belai halus rambutku, kilau kemerlapnya
Rangkul lembut tubuhku, hangatnya
Hapus susuah hatiku, rapsodi silaunya
Namun sekonyong-konyong,
horison itu pun menghitam, tertutup kalbu pekat, awan gelap.
Mendung.
Tik..tik..tik..
Tetesan air itu membisik, menitik, merintik, lantas berisik.
Gerimis, dan hujan.
Teras panti asuhan
Walau hujan, aku tetaplah bersimpuh
Menyila kakiku, sandarkan kepalaku di tembok panti asuhan
Pandang gemericik air hujan ....
Dingin.
Mataku terhalang pedut, terhalau payung si pedusi.
Tapi aku tetap tak peduli.
Hujan itu makin menggegap gempita, gempur apapun di bawahnya, gelojoh semua yang ia lewati.
Aku di geminte ini, tetap tak beranjak.
Hembusan angin sadarkan aku
Riak-riak genangan air yang diciptanya, oh betapa indah!
Angin itu semakin gelora. Aku gementar.
Pohon ek di depan itu, tumbang!
Badai hampiri aku!
Lekas-lekas, aku berlari masuk
Di kamarku, kulayangkan pandangku ke angkasa luas
Petir menyambar-nyambar. Silaunya kilat sipitkan mataku.
Aku menunggu. Takut.. takut!
Lantas, angin topan itu hentikan murkanya.
Kupandang kembali horison itu.
Mulai cerah.
Mentari mulai muncul lagi, terang benderang.
Angkasa raya.
Hei, pelangi muncul! Aku terkagum, berdecak.
Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, terpilin begitu elok, seakan aku berada di indraloka tanpa nestapa.
Aku tersenyum. Lantas berjalan keluar.
Tersebar indayang-indayang dan pelepah-pelepah pisang di jalanan. Serta atap-atap zositet.
Sekali lagi, kupandang pelangi itu.
Diiringi nyanyian dan tarian indah sang mentari..
Cicitan burung-burung kecil, kibasan gagah sayap rajawali...
Selepas badai itu.
Percikan-percikan api semangat
awali hariku, si yatim piatu
Kumanja diriku, pandang birunya horison itu
Teras panti asuhan
Kusambut alunan lagu selamat pagi dari pancaran sinar mentari bagiku
Belai halus rambutku, kilau kemerlapnya
Rangkul lembut tubuhku, hangatnya
Hapus susuah hatiku, rapsodi silaunya
Namun sekonyong-konyong,
horison itu pun menghitam, tertutup kalbu pekat, awan gelap.
Mendung.
Tik..tik..tik..
Tetesan air itu membisik, menitik, merintik, lantas berisik.
Gerimis, dan hujan.
Teras panti asuhan
Walau hujan, aku tetaplah bersimpuh
Menyila kakiku, sandarkan kepalaku di tembok panti asuhan
Pandang gemericik air hujan ....
Dingin.
Mataku terhalang pedut, terhalau payung si pedusi.
Tapi aku tetap tak peduli.
Hujan itu makin menggegap gempita, gempur apapun di bawahnya, gelojoh semua yang ia lewati.
Aku di geminte ini, tetap tak beranjak.
Hembusan angin sadarkan aku
Riak-riak genangan air yang diciptanya, oh betapa indah!
Angin itu semakin gelora. Aku gementar.
Pohon ek di depan itu, tumbang!
Badai hampiri aku!
Lekas-lekas, aku berlari masuk
Di kamarku, kulayangkan pandangku ke angkasa luas
Petir menyambar-nyambar. Silaunya kilat sipitkan mataku.
Aku menunggu. Takut.. takut!
Lantas, angin topan itu hentikan murkanya.
Kupandang kembali horison itu.
Mulai cerah.
Mentari mulai muncul lagi, terang benderang.
Angkasa raya.
Hei, pelangi muncul! Aku terkagum, berdecak.
Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, terpilin begitu elok, seakan aku berada di indraloka tanpa nestapa.
Aku tersenyum. Lantas berjalan keluar.
Tersebar indayang-indayang dan pelepah-pelepah pisang di jalanan. Serta atap-atap zositet.
Sekali lagi, kupandang pelangi itu.
Diiringi nyanyian dan tarian indah sang mentari..
Cicitan burung-burung kecil, kibasan gagah sayap rajawali...
Selepas badai itu.





